Nasi dan obat mag ini harus sampai kepada Alenda secepatnya, tekad Nadia. Bagi gadis PMI ini sebungkus nasi dan obat mag di dalam tas plastik hitam itu ibarat “sebungkus cinta sejati” yang harus sampai kepada Alenda seutuhnya. Dan, itulah janjinya kepada pemuda yang terkena mag akut dan sedang terbaring di salah satu ruangan di dalam Gedung MPR itu.
Nadia sendiri terjebak di tengah aksi unjuk rasa tidak jauh dari Gedung MPR. Dan, keadaan benar-benar menjadi kacau ketika aparat keamanan berusaha keras membubarkan para pengunjuk rasa.
Dan, sial bagi Nadia, ia tertabrak-tabrak para demonstran sampai terjengkang ke pinggir jalan raya, sehingga kantung plastik berisi nasi dan obat mag di tangannya terpental ke aspal. Sambil meringkuk di atas aspal, ia cepat-cepat melindungi kepalanya dengan kedua telapak tangannya dari injakan kaki-kaki yang berlarian kalang kabut.
Dalam ketakutan yang belum reda, tiba-tiba tendangan sepatu mendarat ke tubuh gadis itu. “Ayo, bangun!” perintah sang aparat sambil melotot dan mengangkat pentungan.
“Ikut saya!” katanya.
Nadia panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Nasi saya, Pak! Tolong nasi saya! Ada yang sakit mag. Harus segera diberi nasi dan obat. Jika tidak, bisa mati!” kata Nadia pada aparat keamanan itu. Tapi sang aparat tidak peduli dan terus menyeretnya.
“Nggak bilang dari tadi! Brengsek!” anggota PHH itu melepaskan Nadia, sambil mengomel dan mendorong gadis itu agak keras.
Nadia lantas berjalan tertatih-tatih. Matanya jelalatan mencari-cari sebungkus nasi dalam kantung plastik hitam tadi. Jalannya agak terpincang-pincang, mungkin telapak kakinya yang terbungkus sepatu cat hitam lecet.
Di tengah situasi kacau balau seperti itu sebungkus nasi menjadi barang langka bagi Nadia.
Setelah berusaha keras, ia temukan juga kantung plastik hitam itu, persis di bawah jembatan layang Taman Ria Senayan. Ia bermaksud mengambilnya, tapi sepeleton aparat keamanan bergerak cepat, dan dengan langkah-langkah bergedebum menggilas kantung plastik itu. ” Astaga! ” teriak gadis itu sambil melongo dan mengusap dadanya.
Selewat tragedi kecil itu, gadis yang di dadanya tertempel nama Nadia Marhastuti itu buru-buru berlari kecil ke tengah jalan dan memungut kantung plastik hitam tersebut. Begitu kembali ke pinggir jalan, ia memeriksa isi kantung itu. Ia terbelalak, bungkusan nasi itu telah benar-benar gepeng seperti dilindas buldoser. Tapi, ajaibnya, kertas pembungkus dan kantung plastiknya sama sekali tidak robek. Begitu juga sekaplet obat magnya, masih utuh.
Sambil menenteng kantung plastik hitam itu, Nadia lantas berlari tertatih-tatih ke arah Gedung MPR. Tapi, sebuah barikade pagar betis berlapis, PHH, dan pasukan Kostrad, menghadangnya tidak jauh dari pintu masuk gedung MPR. Tampak pula beberapa panser, mobil pemadam kebakaran, dan truk-truk militer yang hidungnya dilengkapi perisai berlapis kawat berduri.
*
Sudah tiga hari Alenda menginap di Gedung MPR, ikut meneriakkan reformasi untuk menumbangkan rezim otoriter yang dinilainya korup. Dan, karena bersemangatnya, ia lupa makan, sehingga penyakit magnya kambuh. Sialnya, perbekalan kelompoknya habis dan tergeletaklah ia sambil sesekali memegang perutnya dan meringis-ringis kesakitan.
“Tenanglah, Alenda. Aku berjanji segera kembali dengan nasi dan obat mag untukmu,”
Ingat janji dan penderitaan pacarnya itu, semangat Nadia berkobar lagi.

Ia mencari akal, menunggu kesempatan, untuk dapat masuk secara paksa. Tidak lama kemudian muncul arak-arakan mahasiswa dari arah Semanggi, bukan hanya ratusan, tapi ribuan.
Nadia melihat ada kesempatan untuk ikut merangsek masuk. Dan, betul juga. Meskipun sudah diperingatkan melalui pengeras suara agar tidak mendekat, barisan ribuan demonstran itu terus merangsek barikade tentara. Bentrok antara aparat keamanan dan demonstran pun tidak bisa dihindari lagi. Bunyi senapan otomatis berletusan dari aparat, dibalas hujan batu dari para demonstran. Gas air mata berkali-kali dilemparkan. Meriam air pun tidak henti-henti ditembakkan ke arah para demonstran. Mereka kocar-kacir. Ada yang bertiarap. Ada yang mengambil langkah seribu. Ada yang terjungkal terkena peluru. Ada yang terkena pentung bertubi-tubi, lalu tergeletak ke aspal. Tapi, banyak juga yang berhasil lolos masuk ke komplek gedung MPR.
Nadia benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk ikut lolos ke dalam. Ia ikut merangsek barikade aparat keamanan. Tapi, belum sampai melewati pintu gerbang kompleks Gedung MPR, seorang anggota PHH menjegal kakinya, dan pentungan karet bertubi-tubi memukul punggungnya. Ia jatuh terguling ke aspal dan kantung plastik hitamnya pun terpental lagi ke jalan raya. Kali ini nasibnya lebih sial, tubuhnya terinjak-injak puluhan kaki mahasiswa yang berlarian tidak tentu arah, dalam kepulan gas air mata dan hajaran meriam air.
Berkali-kali Nadia mencoba bangkit, tapi berkali-kali kembali terguling karena diterjang orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. Akhirnya ia hanya bisa melindungi kepalanya dengan kedua lengannya, kemudian memejamkan matanya. Dan, yang terakhir ia rasakan adalah ratusan sepatu bergantian menginjak-injak perut dan dadanya.
Ketika kesadarannya pulih, bentrok antara aparat dan demonstran telah reda.Ingatannya langsung terbawa pada sebungkus nasi dan obat mag di dalam kantung plastik hitam serta wajah cemas Alenda yang menunggunya di salah satu sudut gedung MPR. Dengan matanya ia pun mencari-cari kantung plastik hitam itu. Dan, sekitar lima meter dari tempatnya terbaring, dalam terpaan cahaya lampu merkuri, tampak bayang-bayang onggokan kantung plastik hitam.

Di tengah suasana jalan yang sudah lengang dari hiruk pikuk demonstrasi, sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam itu seperti menjadi ‘aktor politik’ yang sangat penting, yang memiliki kekuatan subversif untuk meruntuhkan kekuasaan. Seakan, hanya untuk mengawasi sebungkus nasi itulah puluhan tentara bersiaga di pintu gerbang, agar sang nasi tidak dapat menyusup masuk ke kompleks Gedung MPR. Nadia membayangkan, seandainya ia nekat merangkak untuk mengambil nasi itu, mungkin akan disambut berondongan tembakan senapan otomatis, lemparan bom gas air mata, atau tembakan meriam air dari mobil PHH.
Nadia tetap mencoba untuk bangkit. Tapi, ia merasa tidak punya sisa kekuatan lagi, bahkan hanya untuk mengangkat kepalanya sekalipun. Seluruh tubuhnya – yang basah kuyup – terasa pegal dan nyeri. Dan, rasa yang paling nyeri ada di bawah dada dan selangkangannya. Mungkin tulang rusuknya patah terinjak sepatu tentara, dan kemaluannya memar karena tergencet sepatu juga.
Namun, gadis itu tidak putus asa begitu saja. Ia mencoba bangkit lagi, untuk duduk, tapi gagal lagi. Ia mencoba lagi, berkali-kali, tapi selalu gagal lagi. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia meraba rasa nyeri di bawah dadanya. Ia yakin, satu atau dua tulang rusuknya patah akibat terinjak sepatu. Kemudian ia memberanikan diri meraba kemaluannya yang masih dibungkus celana panjang putih seragam PMI. Ia terkejut tangannya menyentuh cairan kental keluar menembus celananya. Buru-buru ia menarik jari-jari tangannya, memeriksa dengan matanya, dan menciumnya. ‘Kemaluanku berdarah!’ batinnya.
Nadia bergidik. Tiba-tiba ia khawatir telah menjadi korban perkosaan. Tapi, oleh siapa dan dilakukan di mana? Mungkinkah ia diperkosa di tengah jalan? Nadia menjadi curiga, jangan-jangan, ketika pingsan, ia dinaikkan ke dalam mobil oleh seseorang, entah siapa, lalu dibawa ke suatu tempat yang sepi, diperkosa di sana, lalu dibawa lagi ke jalan di depan Gedung MPR dan seperti sampah dilempar begitu saja ke tepi jalan. Nadia merasa ngeri membayangkan apa yang telah menimpanya. Ia lantas menggerakkan tangannya ke belakang punggungnya, untuk memastikan di mana tepatnya kini tubuhnya terbaring. ia menyadari bahwa tubuhnya kini terbaring meringkuk persis di sisi beton pembatas jalan.
Dengan tetap meringkuk, ia mengamati situasi di dalam. Kompleks itu kini sudah dipenuhi pengunjuk rasa. Tapi, bagaimana nasib Alenda? Makin cemas saja ia mengingatnya.

Dalam ketidakberdayaan itu Nadia akhirnya mencoba untuk tidur, menunggu pagi. Ia berharap ada yang menemukannya sebelum pingsan dan segera membawanya ke rumah sakit.Mungkin beginilah kalau mati kelak, pikirnya. Nadia jadi ingat untuk berdoa, jika malam itu adalah malam terakhir hidupnya, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya.
Dalam kepasrahannya itu tiba-tiba Nadia merasakan kakinya ditendang-tendang. dua sosok lelaki tua dengan pakaian kuning-kuning, dan sapu lidi di tangan masing-masing, berdiri di dekat kakinya. Dua petugas kebersihan kota, yang memang mulai bekerja pada dini hari, menemukannya.
“Tolong saya, Pak,” “Tubuh saya remuk…. Saya tak bisa berdiri….”
Kedua petugas kebersihan itu lantas mengangkat bahu Nadia sambil memegangi lengannya, membantunya berdiri. Gadis itu minta dipapah masuk ke dalam gedung MPR, ke ruangan tempat Alenda terbaring sakit, sambil membawa tas plastik berisi sebungkus nasi dan obat mag yang tadi tergeletak di tengah jalan. Ia betul-betul ingin membuktikan janjinya kepada kekasihnya itu. Tapi, ia sangat kecewa, tidak ada lagi Alenda di sana. Yang ada hanya beberapa mahasiswa yang sedang sibuk membuat spanduk dan poster-poster gerakan reformasi.
Nadia ingin sekali bertanya pada mereka ke mana Alenda dibawa dan dirawat. Tapi ia keburu pingsan sebelum pertanyaan itu sempat diucapkannya. Maka, sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam yang telah menempuh perjalanan panjang, keras, dan berliku itu, akhirnya hanya tergeletak basi di pojok salah satu ruangan gedung wakil rakyat!

About Genius

alexboy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s