Doctor Of Hotel and Taurisme Management

Doctor Of Hotel and Taurisme Management

Fotoku

image

image

image

Mengetahui elemen dari angka-angka kelahiran.

Pertama-tama , tentukan Nomor Tahun Kelahiran dengan cara ; ambil dua angka terakhir dari tahun kelahiran anda , lalu jumlahkan dan kurangi -10.
Contoh :
” Misalnya Anda lahir 1978. Ambil angka 7 dan 8 lalu tambahkan (7+8) = 15. Jumlahkan 1 + 5 = 6. Angka 6 dikurangi 10 = 4. Berarti nomor tahun kelahiran Anda 4.”
Jika Anda lahir tahun 1943, berarti 4+3 = 7, dan 7 dikurangi 10, hasilnya nomor tahun kelahiran anda 3. Dan seterusnya. Lalu cocokkan untuk mengetahui potensi Anda dengan analisis berikut ini:

Tahun Kelahiran 1 = Air yang mengalir
Anda seorang yang tidak memiliki rasa aman. Suka berhasia. Anda harus terbiasa hidup dengan dinamika tinggi, terus bergerak dan itu tidak mudah untuk anda jalani. Tapi sesuai sifat anda yang seperti air mengalir, anda selalu bisa menemukan jalan keluar. Pengalaman buruk dan kesulitan akan membuat anda independent, leluasa menentukan kehendak hati. Orang bertipe ini memandang kehidupan selayaknya air mengalir. Kesulitan apapun akan bisa dihadapi olehnya.

Tahun Kelahiran 2 = Bumi
Beratak teguh, penuh perhatian dan selalu mendukung. Tipe bumi ini lebih pas dan pantas dijadikan seorang rekan bukan pemimpin. Lebih suka berdiam diri dan menjadi pengikut setia. Selalu membutuhkan bantuan dari orang yang lebih kuat untuk meraih tujuan akhir. Problem akan menghadang ketika mencoba meraih sukses dengan terburu-buru, tanpa mempersiapkan segala sesuatunya dari awal. Tipe bumi selalu tergesa-gesa dan biasa bekerja tanpa persiapan matang. Untuk sukses, terlalu banyak rintangan.

Tahun Kelahiran 3 = Petir
Anda adalah orang yang enerjik, tidak sabaran, ingin selalu menonjol dan bertahan pada jalan yang sudah ditempuh. Sering terlalu terus terang atas kegagalan orang lain, tapi untuk kegagalan dirinya selalu sensitif. Daya kreasinya tinggi dan buah pikirnya selalu orosinil. Dua hal ini merupakan kunci suksesnya. Tapi dia mudah frustasi dan marah ketika merasa tertekan. Kelemahannya adalah ingin selalu meraih semuanya dalam waktu bersamaan. Padahal konsekuensinya, semua malah akan berantakan.

Tahun Kelahiran 4 = Angin
Seperti angin, Anda mudah berubah, plinplan dan selalu tidak pasti. Meskipun demikian, saat mengalami kegagalan anda tidak mudah menyerah dan takluk pada kehidupan. Biasanya, sikapnya sangat bersahabat dan penuh kasih sayang. Suka mendahulukan kepentingan orang lain dan lebih suka membantu orang lain untuk sukses daripada membuat dirinya sukses lebih dahulu.

Tahun Kelahiran 5 = Kekuatan Utama
Masa kecil yang penuh kesulitan mendorong tipe ini untuk tumbuh mandiri saat usiaa dewasa. Penuh kharisma saat jika berhadapan dengan orang lain dan mempunyai ketekunan yang luar biasa. Kunci sukses orang ini berpangkal dari dua hal itu. Sangat berpotensi untuk menjadi pemimpin. Sayangnya sering berbicara bertele-tele saat merasa ragu akan sesuatu. Bisa dibilang, orang ini tidak membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan apapun.

Tahun kelahiran 6 = Surga
Penuh tanggung jawab dan perhatian. Selalu hati-hati dalam setiap langkah dan tindakan. Cenderung menempatkan diri diatas orang lain, dan menyampaikan kritik terhadap mereka. Mempunyai kekuatan untuk menjadi inspirasi orang lain dan sering dicontoh sikapnya karena memang berbakat menjadi pemimpin. Satu hal yang harus disadari, bahwa hidup ini harus dihadapi dengan serius kalau mau sukses. Selebihnya adalah kerelaan dalam menempatkan diri ditengah masyarakat.

Tahun Kelahiran 7 = Danau
Hidup didasari sikap optimis, fleksibel dan sedikit gampangan. Pandangannya agak materialistis. Untungnya tipe ini mudah mendapatkan rezeki. Uang sepertinya tidak menjadi persoalan baginya. Uang mudah datang padanya, tapi mudah juga dihamburkan dalam sekejab. Pandai berdiplomasi dan sedikit bermuka dua bila bicara dengan orang lain. Hidupnya tidak jauh dari kesenangan.

Tahun Kelahiran 8 = Gunung
Soal kesetiaan, jangan diragunkan lagi orang ini. Loyalitasnya seimbang dengan sifat keras kepala yang dimiliki. Kemauannya keras tapi sukar sekali mengekpresikan perasaannya pada orang lain. Dibutuhkan orang banyak, karena kekuatan dan rasa menolongnya yang besar. Tapi harus bisa obyektif dan tidak memihak pada orang lain, agar tidak disakiti di kemudian hari. Punya kelebihan dalam menghadapi badai kehidupan, yaitu sifatnya yang sangat tabah.

Tahun Kelahiran 9 = Api
Anda yang memiliki nomor 9, ditakdirkan menjadi seorang yang cemerlang, cerdas dan penuh gairah. Bisa berdiri tegak ditengah orang banyak, dan menjadi pujaan orang lain. Sebaiknya anda hati-hati dalam memilih sahabat, karena kadang-kadang anda disakiti mereka. Dengan ambisi dan kecerdasan yang dimiliki, Anda berkeinginan menjadi seorang yang superior. Tapi akan lebih bijaksana lagi jika anda bermudah hati dan tenggang rasa terhadap perasaan orang lain.

Kisah Nyata: Dibalik acara demontrasi sebungkus nasi dan obat Mag

Nasi dan obat mag ini harus sampai kepada Alenda secepatnya, tekad Nadia. Bagi gadis PMI ini sebungkus nasi dan obat mag di dalam tas plastik hitam itu ibarat “sebungkus cinta sejati” yang harus sampai kepada Alenda seutuhnya. Dan, itulah janjinya kepada pemuda yang terkena mag akut dan sedang terbaring di salah satu ruangan di dalam Gedung MPR itu.
Nadia sendiri terjebak di tengah aksi unjuk rasa tidak jauh dari Gedung MPR. Dan, keadaan benar-benar menjadi kacau ketika aparat keamanan berusaha keras membubarkan para pengunjuk rasa.
Dan, sial bagi Nadia, ia tertabrak-tabrak para demonstran sampai terjengkang ke pinggir jalan raya, sehingga kantung plastik berisi nasi dan obat mag di tangannya terpental ke aspal. Sambil meringkuk di atas aspal, ia cepat-cepat melindungi kepalanya dengan kedua telapak tangannya dari injakan kaki-kaki yang berlarian kalang kabut.
Dalam ketakutan yang belum reda, tiba-tiba tendangan sepatu mendarat ke tubuh gadis itu. “Ayo, bangun!” perintah sang aparat sambil melotot dan mengangkat pentungan.
“Ikut saya!” katanya.
Nadia panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Nasi saya, Pak! Tolong nasi saya! Ada yang sakit mag. Harus segera diberi nasi dan obat. Jika tidak, bisa mati!” kata Nadia pada aparat keamanan itu. Tapi sang aparat tidak peduli dan terus menyeretnya.
“Nggak bilang dari tadi! Brengsek!” anggota PHH itu melepaskan Nadia, sambil mengomel dan mendorong gadis itu agak keras.
Nadia lantas berjalan tertatih-tatih. Matanya jelalatan mencari-cari sebungkus nasi dalam kantung plastik hitam tadi. Jalannya agak terpincang-pincang, mungkin telapak kakinya yang terbungkus sepatu cat hitam lecet.
Di tengah situasi kacau balau seperti itu sebungkus nasi menjadi barang langka bagi Nadia.
Setelah berusaha keras, ia temukan juga kantung plastik hitam itu, persis di bawah jembatan layang Taman Ria Senayan. Ia bermaksud mengambilnya, tapi sepeleton aparat keamanan bergerak cepat, dan dengan langkah-langkah bergedebum menggilas kantung plastik itu. ” Astaga! ” teriak gadis itu sambil melongo dan mengusap dadanya.
Selewat tragedi kecil itu, gadis yang di dadanya tertempel nama Nadia Marhastuti itu buru-buru berlari kecil ke tengah jalan dan memungut kantung plastik hitam tersebut. Begitu kembali ke pinggir jalan, ia memeriksa isi kantung itu. Ia terbelalak, bungkusan nasi itu telah benar-benar gepeng seperti dilindas buldoser. Tapi, ajaibnya, kertas pembungkus dan kantung plastiknya sama sekali tidak robek. Begitu juga sekaplet obat magnya, masih utuh.
Sambil menenteng kantung plastik hitam itu, Nadia lantas berlari tertatih-tatih ke arah Gedung MPR. Tapi, sebuah barikade pagar betis berlapis, PHH, dan pasukan Kostrad, menghadangnya tidak jauh dari pintu masuk gedung MPR. Tampak pula beberapa panser, mobil pemadam kebakaran, dan truk-truk militer yang hidungnya dilengkapi perisai berlapis kawat berduri.
*
Sudah tiga hari Alenda menginap di Gedung MPR, ikut meneriakkan reformasi untuk menumbangkan rezim otoriter yang dinilainya korup. Dan, karena bersemangatnya, ia lupa makan, sehingga penyakit magnya kambuh. Sialnya, perbekalan kelompoknya habis dan tergeletaklah ia sambil sesekali memegang perutnya dan meringis-ringis kesakitan.
“Tenanglah, Alenda. Aku berjanji segera kembali dengan nasi dan obat mag untukmu,”
Ingat janji dan penderitaan pacarnya itu, semangat Nadia berkobar lagi.

Ia mencari akal, menunggu kesempatan, untuk dapat masuk secara paksa. Tidak lama kemudian muncul arak-arakan mahasiswa dari arah Semanggi, bukan hanya ratusan, tapi ribuan.
Nadia melihat ada kesempatan untuk ikut merangsek masuk. Dan, betul juga. Meskipun sudah diperingatkan melalui pengeras suara agar tidak mendekat, barisan ribuan demonstran itu terus merangsek barikade tentara. Bentrok antara aparat keamanan dan demonstran pun tidak bisa dihindari lagi. Bunyi senapan otomatis berletusan dari aparat, dibalas hujan batu dari para demonstran. Gas air mata berkali-kali dilemparkan. Meriam air pun tidak henti-henti ditembakkan ke arah para demonstran. Mereka kocar-kacir. Ada yang bertiarap. Ada yang mengambil langkah seribu. Ada yang terjungkal terkena peluru. Ada yang terkena pentung bertubi-tubi, lalu tergeletak ke aspal. Tapi, banyak juga yang berhasil lolos masuk ke komplek gedung MPR.
Nadia benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk ikut lolos ke dalam. Ia ikut merangsek barikade aparat keamanan. Tapi, belum sampai melewati pintu gerbang kompleks Gedung MPR, seorang anggota PHH menjegal kakinya, dan pentungan karet bertubi-tubi memukul punggungnya. Ia jatuh terguling ke aspal dan kantung plastik hitamnya pun terpental lagi ke jalan raya. Kali ini nasibnya lebih sial, tubuhnya terinjak-injak puluhan kaki mahasiswa yang berlarian tidak tentu arah, dalam kepulan gas air mata dan hajaran meriam air.
Berkali-kali Nadia mencoba bangkit, tapi berkali-kali kembali terguling karena diterjang orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. Akhirnya ia hanya bisa melindungi kepalanya dengan kedua lengannya, kemudian memejamkan matanya. Dan, yang terakhir ia rasakan adalah ratusan sepatu bergantian menginjak-injak perut dan dadanya.
Ketika kesadarannya pulih, bentrok antara aparat dan demonstran telah reda.Ingatannya langsung terbawa pada sebungkus nasi dan obat mag di dalam kantung plastik hitam serta wajah cemas Alenda yang menunggunya di salah satu sudut gedung MPR. Dengan matanya ia pun mencari-cari kantung plastik hitam itu. Dan, sekitar lima meter dari tempatnya terbaring, dalam terpaan cahaya lampu merkuri, tampak bayang-bayang onggokan kantung plastik hitam.

Di tengah suasana jalan yang sudah lengang dari hiruk pikuk demonstrasi, sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam itu seperti menjadi ‘aktor politik’ yang sangat penting, yang memiliki kekuatan subversif untuk meruntuhkan kekuasaan. Seakan, hanya untuk mengawasi sebungkus nasi itulah puluhan tentara bersiaga di pintu gerbang, agar sang nasi tidak dapat menyusup masuk ke kompleks Gedung MPR. Nadia membayangkan, seandainya ia nekat merangkak untuk mengambil nasi itu, mungkin akan disambut berondongan tembakan senapan otomatis, lemparan bom gas air mata, atau tembakan meriam air dari mobil PHH.
Nadia tetap mencoba untuk bangkit. Tapi, ia merasa tidak punya sisa kekuatan lagi, bahkan hanya untuk mengangkat kepalanya sekalipun. Seluruh tubuhnya – yang basah kuyup – terasa pegal dan nyeri. Dan, rasa yang paling nyeri ada di bawah dada dan selangkangannya. Mungkin tulang rusuknya patah terinjak sepatu tentara, dan kemaluannya memar karena tergencet sepatu juga.
Namun, gadis itu tidak putus asa begitu saja. Ia mencoba bangkit lagi, untuk duduk, tapi gagal lagi. Ia mencoba lagi, berkali-kali, tapi selalu gagal lagi. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia meraba rasa nyeri di bawah dadanya. Ia yakin, satu atau dua tulang rusuknya patah akibat terinjak sepatu. Kemudian ia memberanikan diri meraba kemaluannya yang masih dibungkus celana panjang putih seragam PMI. Ia terkejut tangannya menyentuh cairan kental keluar menembus celananya. Buru-buru ia menarik jari-jari tangannya, memeriksa dengan matanya, dan menciumnya. ‘Kemaluanku berdarah!’ batinnya.
Nadia bergidik. Tiba-tiba ia khawatir telah menjadi korban perkosaan. Tapi, oleh siapa dan dilakukan di mana? Mungkinkah ia diperkosa di tengah jalan? Nadia menjadi curiga, jangan-jangan, ketika pingsan, ia dinaikkan ke dalam mobil oleh seseorang, entah siapa, lalu dibawa ke suatu tempat yang sepi, diperkosa di sana, lalu dibawa lagi ke jalan di depan Gedung MPR dan seperti sampah dilempar begitu saja ke tepi jalan. Nadia merasa ngeri membayangkan apa yang telah menimpanya. Ia lantas menggerakkan tangannya ke belakang punggungnya, untuk memastikan di mana tepatnya kini tubuhnya terbaring. ia menyadari bahwa tubuhnya kini terbaring meringkuk persis di sisi beton pembatas jalan.
Dengan tetap meringkuk, ia mengamati situasi di dalam. Kompleks itu kini sudah dipenuhi pengunjuk rasa. Tapi, bagaimana nasib Alenda? Makin cemas saja ia mengingatnya.

Dalam ketidakberdayaan itu Nadia akhirnya mencoba untuk tidur, menunggu pagi. Ia berharap ada yang menemukannya sebelum pingsan dan segera membawanya ke rumah sakit.Mungkin beginilah kalau mati kelak, pikirnya. Nadia jadi ingat untuk berdoa, jika malam itu adalah malam terakhir hidupnya, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya.
Dalam kepasrahannya itu tiba-tiba Nadia merasakan kakinya ditendang-tendang. dua sosok lelaki tua dengan pakaian kuning-kuning, dan sapu lidi di tangan masing-masing, berdiri di dekat kakinya. Dua petugas kebersihan kota, yang memang mulai bekerja pada dini hari, menemukannya.
“Tolong saya, Pak,” “Tubuh saya remuk…. Saya tak bisa berdiri….”
Kedua petugas kebersihan itu lantas mengangkat bahu Nadia sambil memegangi lengannya, membantunya berdiri. Gadis itu minta dipapah masuk ke dalam gedung MPR, ke ruangan tempat Alenda terbaring sakit, sambil membawa tas plastik berisi sebungkus nasi dan obat mag yang tadi tergeletak di tengah jalan. Ia betul-betul ingin membuktikan janjinya kepada kekasihnya itu. Tapi, ia sangat kecewa, tidak ada lagi Alenda di sana. Yang ada hanya beberapa mahasiswa yang sedang sibuk membuat spanduk dan poster-poster gerakan reformasi.
Nadia ingin sekali bertanya pada mereka ke mana Alenda dibawa dan dirawat. Tapi ia keburu pingsan sebelum pertanyaan itu sempat diucapkannya. Maka, sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam yang telah menempuh perjalanan panjang, keras, dan berliku itu, akhirnya hanya tergeletak basi di pojok salah satu ruangan gedung wakil rakyat!

Travel index starting with the Letter’C’ by AitchEye.com

desc

melaluiTravel index starting with the Letter’C’ by AitchEye.com.

http://articleflix.com/index.php/software/windows-7-upgrade-advisor-2-07052010.html

http://articleflix.com/index.php/software/windows-7-upgrade-advisor-2-07052010.html.

Terserah yang di atas

Humor :

Pada sesuatu malam…..ada sepasang muda mudi, sebut saja namanya Amir dan Ani yang lagi asik berhubungan intim dan setelah selesai, terjadilah percakapan sebagai berikut : ‘ Sayang…kita kan belum nikah kalau nanti aku hamil bagaimana…???tanya Ani kepada Amir.

” itu sih terserah yang diatas aja, soalnya kan dia yang nentuin…tapi kalau memang kamu hamil akuu….”sebelum Amir selesai ngomong, ternyata ada orang yang lagi ngintip dari atas dan dia langsung turun dan ngomong:”Enak aja terserah gue”

Amir dan Ani : ??????

一年一度的中秋節

一年一度的中秋節又來到了!
中秋節 快樂唷!!

祝福您:

心到 想到 得到,
看到 聞到 吃到,
福到 運到 財到,
中秋節還沒到,
但願我真摰的祝福是第一個到!!
祝您中秋節快樂喔!!!
躬體安康,精神愉快!

Renungan : Malaikat

Malaikat di dalam Mikrolet Jika ada kesempatan untuk berbuat baik lakukanlah segera, itu mungkin kesempatan terakhir anda.

mzm-96-small Di suatu siang hari  bolong, jam satu siang,  matahari bersinar  terik membakar  gosong kulit setiap  pengelana yang nekad  berada di jalanan.  Panas yang membakar  datangnya tidak hanya  dari atas, namun  pantulannya di jalan  yang beraspal dan tanah kering tandus juga menambah parah teriknya. Keadaan seperti ini seharusnya cukup menyadarkan setiap orang akan dosa-dosanya dan tidak menuju ke neraka. Angkutan umum tidak terlalu ramai, barangkali sebagian besar sopir beristirahat atau menunggu di poll karena jam begitu tidaklah banyak penumpang lalu lalang. Saya naik angkutan umum yang biasa disebut mikrolet itu dan menjadi penumpang pertama dan satu-satunya. Seperti biasa saya mengambil tempat di sudut agar tidak di geser-geser penumpang lain mengingat perjalanan saya cukup panjang. Dalam posisi seperti ini biasanya saya tidak ingin diganggu karena adalah waktu dimana saya membiarkan pikiran ini mengembara, entah menghayal, bermimpi atau berimajinasi. Selang beberapa waktu naiklah seorang yang sangat tua. Barangkali usianya belumlah mencapai tujuh puluh tahun namun keadaannya sangatlah memiluhkan. Badannya kurus dan renta, wajahnya dipenuhi benjolan-benjolan sebesar kacang polong, matanya merah dan bersinar lemah dan badanya mengeluarkan bau yang tidak sedap entah disebabkan oleh penyakitnya atau oleh pakaiannya yang lusuh. Ia mengambil tempat duduk di depan saya yang walau berusaha tidak perduli tapi sesekali mengamatinya. Perjalanan belumlah panjang ketika sopir angkot itu bertanya kepada orang tua tadi “pak mau turun di mana?”. Dan dengan suara berat dipaksakan ia menjawab “rumah sakit!”. “Aduh pak, kenapa tidak bilang dari tadi, itu Rumah sakitnya sudah lewat. Bapak turun di sini saja dan ambil angkot lain” kata sopir itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Orang tua itu terlalu lemah sehingga membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk keluar dari angkot tersebut. Saya satu-satunya penumpang lain disitu tapi badan saya kaku menempal di jok mobil. Hati saya berteriak keras “ayo, tolong orang tua itu”. Namun badan saya tetap tidak bergerak. Sekali lagi suara hati saya berteriak bahkan lebih keras lagi “pegang tangannya, goblok!” . Tidak juga saya lakukan Dan ketika kedua kakinya menginjak tanah sang sopir langsung menacap gas dan pergi meninggalkan orang tua itu yang sedang berjuang menjaga keseimbangan dan mengibas debu yang dihasilkan roda –roda angkot tersebut. Saya memandangnya dari kaca mobil, dengan penuh belas kasihan dan rasa bersalah. Entah apa yang menahan tubuh ini dan membuatnya tidak bekerja sama dengan akal sehat dan suara hati. Saya seharusnya dapat menolong orang tersebut, menegur sopir yang tidak manusiawi, membantunya turun, mengantarnya ke RS, menghubungi keluarganya, atau apa sajalah. Namun semua tidak saya lakukan. Kenyamanan telah mengalahkan keinginan untuk berbuat baik. Perasaan tidak ingin ditepotkan telah mendiamkan teriakan suara hati nurani. Dan sekarang saya punya masalah, karena wajah orang tua itu terus membayang mengikuti kemana saya pergi : ke sekolah, waktu makan atau mejelang tidur. “Apa yang terjadi jika seandainya orang itu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menguji saya?” tanya saya dalam hati. “Habislah reputasi saya sebagai anak Tuhan jika orang itu memang adalah malaikatnya” terus menerus saya berkata pada diri sendiri sekan-akan ingin menghukumnya dengan perasaan bersalah.

Tiga hari kemudian, ayah saya berkata bahwa seorang tak dikenal telah meninggal di rumah sakit tempat ia bekerja yang adalah rumah sakit tujuan orang tua tersebut ketika saya bertemu dengannya. Dan ia tidak memiliki keluarga atau siapapun. Saya tidak punya kesempatan untuk melihat tampang mayat tersebut, namun dalam bayangan saya orang tua itulah yang terbaring di sana. Jika benar, saya telah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik yang terakhir kali buatnya. Pengalaman ini mengubah saya untuk tidak menunda untuk mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan. Pertama mereka mungkin adalah malaikat yang menjelma, kedua itu mungkin kesempatan terakhir bagi kedua pihak. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Banyak orang Kristen yang merasa terlalu nyaman berada di dalam gedung gereja yang ber AC dan berkarpet tebal. Para pendeta juga lebih senang melayani di tempat yang menjanjikan uang daripada menjanjikan jiwa. Sementara itu di sekitar kita masih banyak malaikat- malaikat yang berkeliaran menyerupai pengemis, gelandangan, pengamen dan anak-anak kecil di lampu merah. Terlalu banyak orang yang membutuhkan berada di sekitar kita yang tentu tidak masuk akal jika kita harus menolong semuanya. Namun, paling tidak ulurkan tangan kepada orang yang Tuhan kirim kepada Anda.

SAFETY (Keamanan Dalam berkendaraan)

Safety! Safety! Safety! Safety! Safety! Safety!!!!

Dibeberapa negara maju seperti Inggris dan negara tetangga, Malaysia penggunaan ponsel sewaktu berkendara dilarang keras. Yang kedapatan ber-HP ketika berkendara, dikenakan denda atau sanksi serius. Alasannya, apalagi kalau bukan membahayakan. Dalam sebuah ilustrasi cara berkendara digambarkan seorang yang mahir berkendara roda empat pun bakal mengalami kecelakaan ketika dia menerima telepon dari seseorang ” Konsentrasinya bercabang antara fokus menerima telepon dan mengantisipasi situasi dan lingkungan di mana ia berkendara. Apalagi dengan berkendaraan motor roda dua, satu tangan untuk memegang ponsel satunya lagi pegang setang,” papar Joel Deksa Mastana, seorang instruktur safety riding. Wakil Kepala Divisi Humas Polri, Bridjen Soelistyo Ishak mengatakan memang secara tegas belum ada pengaturan mengenai larangan penggunaan ponsel dalam berkendara. “Sampai saat ini kami menghimbau demi kepentingan dan keselamatan bersama agar selama berkendara jangan menggunakan ponsel. Jika memang penting, carilah lokasi aman untuk berhenti dan menerima telepon itu,” jelasnya.Kalau begitu di negara kita Indonesia masalah Safety ketinggal jauh dengan Negara negara maju.yang herannya kenapa tidak dilarang aja! inikan masalah keselamatan . apa tunggu setelah banyak korban baru dikeluarkan Undang-Undangnya . Konyol Konyol sekali kan. Safety! Safety! Safety! Safety! Safety! Safety!!!!